Abstract


Tulisan ini membahas fenomena kiamat lokal di Ponorogo yang terjadi pada tahun 2019. Tulisan ini akan menjelaskan secara sosiologis dan fenomenologis tiga hal: pertama, apa itu komodifikasi agama, kedua, bagaimana fenomena komodifikasi agama menyebar di masyarakat, terutama fenomena “kiamat lokal” di Ponorogo, dan ketiga, akan dianalisis mengapa fenomena itu terjadi dengan menggunakan perspektif komodifikasi agama. Yang diharapkan dari tulisan ini adalah menyingkap tabir fenomena komodifikasi agama yang akhir-akhir ini semarak dan massif terjadi di masyarakat, termasuk fenomena kiamal lokal di Ponorogo. Hasilnya: pertama, komodifikasi agama adalah transformasi nilai-nilai agama yang awalnya hanya memiliki nilai guna, kini menjadi nilai tukar yang dapat dikomersialkan atau dipasarkan. Kedua, isu kiamat lokal di Ponorogo khususnya tidak bersifat teologis, melainkan sosiologis, sebagai sarana komodifikasi oleh sebagian kalangan dengan memanfaatkana simbol agama. Ketiga, fenomena ini tentu saja menjadi problematis secara teologis dan sosiologis karena keduanya terkadang kontradiktif, tetapi dipaksakan. Agama yang secara teologis berfungsi sebagai sumber ajaran, nilai, norma dan kaidah, namun diubah fungsinya menjadi alat tukar yang dapat dikomersialkan. Kiamat adalah doktrin atau ajaran agama bagi pihak yang meyakininya, tetapi ia berubah wajah menjadi alat komersial bagi pihak yang mendoktrinnya.


Keywords


Komodifikasi, Simbol, dan Kiamat