PHENOMENOLOGICAL APPROACH IN INTERFAITH COMMUNICATION: A Solution to Allegation of Religious Blasphemy in Indonesia

Yuangga Kurnia Yahya

Abstract


Abstract: This paper will research the phenomenological approach in interfaith communication. The strength globalization’s flow which is destroying every border between nations, regions, and cultures, unfortunately, is not strong enough to destroy one solid wall, the border of religion and faith’s differences. The phenomenological approach is a theoretical perspective based on the concept “back to the things themselves”. In Husserl’s phenomenology, he made an epoche and eidetic vision as the starting point of this perspective. Both of those concepts are a main and basic concept which is needed in interfaith communication to postponing judgment and looking with their own believer’s perspective. This approach is radically needed to smooth out the interfaith communication. This approach also allows the transcultural communication and identity transformation from one religion’s followers to another to reach a mutual agreement and decrease religious sentiments which are born from the subjectivity of one religion’s followers in judging other religions and their followers. In the end, al-Banna’s Role of Brotherhood can be interpreted as the foundation of Islamic phenomenology in building the solid society.

الملخص: عنى هذا البحث الكلام عن المنهج الظواهري في الاتصال بين الأديان. قوة موج العولمة التي تهاجم الحدود بين البلدان والمناطق والثقافات لم تكن تقوى على هجوم جدار متين، وهو جدار اختلاف الأديان والإيمان. المنهج الظواهر هي إحدى وجهة النظر القائمة على أساس "الرجوع إلى الأشياء نفسها". على نظرية Husserl, يقوم هذا المنهج على نقطتين أساسيتين, هما Epoche وEidetic Vision. كانا مفهومين مهمّين في ابتداء الاتصال بين الأديان لتأجيل الظنون والتقييم والتحكيم عند نظرتهم إلى الأديان المجاورة. وبهذا المنهج أيضا، يمكن لأحد المتيدينين معرفة عادات أديان غيرهم وتحول الهوية بعضهم بعضا للوصول على كلمة السواء بينهم ولإضاعة الكراهة الدينية بين الأديان المولّدة من نظرية ذاتية لديهم. في آخر المقالة، بيّن الكاتب نظام الأسرة عند حسن البنا الذي سيكون أساسا في إقامة منهج الظواهر الإسلامي من أجل بناء مجتمع صلب.

Abstrak: Paper ini akan membahas tentang pendekatan fenomenologi dalam komunikasi antar agama. Kuatnya arus globalisasi yang menggerus berbagai batas antar negara, regional, dan budaya nyatanya tidak cukup kuat untuk menghancurkan salah satu dinding tebal, yaitu dinding perbedaan agama dan kepercayaan. Pendekatan fenomenologi adalah sudut pandang yang berdasar pada konsep “kembali kepada sesuatu itu sendiri”. Dalam fenomenology Husserl, ia menetapkan dua titik awal dalam perspektif ini, yaitu epoche dan eidetic vision. Kedua konsep tersebut adalah konsep dasar dan pokok yang dibutuhkan dalam komunikasi antar agama untuk menunda penghakiman dan melihat suatu agama melalui kacamata pemeluknya sendiri. Pendekatan ini dibutuhkan untuk memuluskan komunikasi antar agama. Pendekatan ini juga memungkinkan komunikasi lintas budaya dan transformasi identitas dari satu pemeluk agama kepada pemeluk agama lainnya untuk menggapai suatu kesepakatan bersama dan mengurangi sentiment keagamaan yang lahir dari subyektivitas seorang pemeluk agama dalam melihat dan menilai pemeluk agama lainnya. Di akhir, penulis memaparkan sistem kekerabatan yang disusun oleh Hasan al-Banna yang dapat pula diinterpretasikan sebagai asas gerakan “fenomenologi Islam”dalam membangun masyarakat yang solid.


Keywords


religious blasphemy; intercultural communication; rights of religion; adherents

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.21154/altahrir.v18i2.1378

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Al-Tahrir indexed by:

                     
______________________________________________________

AL-TAHRIR: JURNAL PEMIKIRAN ISLAM
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo
Jl. Pramuka No. 156 Ronowijayan Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia

Map Coordinate: Lat-7 ° 51'46 " Long 111 ° 29'32"

View My Stats