Hambatan Pelaksanaan SEMA No. 2 Tahun 2019 terhadap Pemenuhan Hak-hak Perempuan Pasca Cerai Gugat di Pengadilan Agama Kabupaten Kediri

Moch Ichwan Kurniawan(1*), Nurul Hanani(2), Rezki Suci Qamaria(3)
(1) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri
(2) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri
(3) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri
(*) Corresponding Author
DOI : 10.21154/syakhsiyyah.v4i1.3962

Abstract

SEMA No. 2 of 2019 which accommodates SEMA No. 3 of 2018 and PERMA No. 3 of 2017 concerning guidelines for adjudicating women's cases in conflict with the law makes new legal protection for women seeking justice, including for divorced wives. Where it allows a divorced wife to ask for her rights after the divorce is sued, namely iddah living and mut'ah income. This rule serves as a guide for judges under the Supreme Court including the Religious Courts of Kediri Regency, but in its implementation, it has not been in accordance with the purpose of the presence of these rules, the focus of this research is to explore the inhibiting factors for the implementation of SEMA No. The Religious Court of Kediri Regency and the solution given by the judge to the divorced wife due to the husband's fault. The results of this study show that the inhibiting factor is the absence of the divorced husband which causes the rules to not be implemented, the absence of instructions from the chairman of the court that requires applying SEMA No. 2 of 2019, and the lack of knowledge of divorced wives about the law. The solution is to present the husband in court so that it can be considered by the judge to decide the divorce case as possible, and the judge also tries to make husband and wife get back together in the household. Because the essence of the Religious Courts is a place to repair husband-wife relationships that experience cracks in the household.

Keywords


SEMA; Women's Rights; Divorce Lawsuits

References


Hotma, Agus. “Problematika Kedudukan dan Pengujian PERMA Secara Materiil Sebagai PEraturan Perundang-Undangan”. Jurnal UNPAK. (2020) Vol. 06: 16-18. https://doi.org/10.33751/palar.v6i1.1831.

Fanani Ahmad. “Hak Ex Officio Hakim”. Jurnal Unida Gontor Ponorogo. (2017). 342-343. http://dx.doi.org/10.21111/tsaqafah.v13i2.1091.

Dahwadin. “Hakikat Perceraian Berdasarkan Ketentuan Hukum Islam Di Indonesia. Jurnal Pemikiran Hukum Dan Hukum Islam. (2020) Vol. 11: 93-94. http://dx.doi.org/10.21043/yudisia.v11i1.3622.

Huda Efendi. “Implementasi PERMA NO. 03 Tahun 2017 Terhadap Hak-Hak Istri Pasca Perceraian Di Pengadilan Agama Ponorogo”. Ponorogo: Skripsi Institut Agama Islam Negeri Ponorog. 2019.

Data Laporan Perkara Masuk dan Putus Pengadilan Agama Kabupaten Kediri Tahun 2020 dan 2021, Diakses Pada Tanggal 21 Desember 2021.

H. Zainuddin Ali. Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika. 2009

“Putusan Mahkamah Agung Perceraian Pengadilan Agama Kabupaten Kediri”. Https://Putusan3.Mahkamahagung.Go.Id/Direktori/Index/Pengadilan/Pa-Kabupaten-Kediri/Kategori/Perceraian.Html, Diakses Pada Tanggal 4 September 2021

Hotman P. Asas Negara Hukum. Peraturan Kebijakan. Jakarta: Erlangga. 2010

Ibrahim. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. 2015

Ibrahim AR. “Eksistensi Hak Ex Officio Hakim dalam Perkara Cerai Talak”.

Jurnal UIN Ar-Raniry Banda Aceh, (2017). 46-47. http://jurnal.arraniry.ac.id/index.php/samarah

Irwan Adi Cahyadi. “Kedudukan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Dalam Hukum Positif Di Indonesia”. Jurnal Universitas Brawijaya Malang. (2014). 7-8. https://media.neliti.com/media/publications/35079-ID-kedudukan-surat-edaran-mahkamah-agung-sema-dalam-hukum-positif-di-indonesia.pdf

Faridah Khoirul. “Perbandingan Implementasi Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan Dengan Hukum Dalam Perkara Perceraian (Studi Di Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri Kota Madiun)”. Madiun: Skripsi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 2020

Lexi. Moeleong. Metodologi Penlitian Kualitatif. Bandung: Pt Remaja Rosdakarya. 2008

Nahar Mardiantoro, Metode Penelitian, Jakarta: Fastikom, 2013.

Silmi Mursidah. “Analisis Maslahah terhadap PERMA Nomor 3 Tahun 2017 tentang pedoman mengadili perempuan berhadapan dengan hukum”. Surabaya: Skripsi Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Ampel. 2018

PERMA No. 3 Tahun 2017 Tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan Dengan Hukum.

Rahmadi. Pengantar Metodologi Penelitian. Banjarmasin: Antasari Press. 2011.

Rizky Sp, “Implementasi Perma No. 3 Tahun 2017 Tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan Dengan Hukum Terhadap Perkara Cerai Gugat (Studi Pengadilan Agama Kelas 1 A Tanjung Karang)”. Lampung: Tesis Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. 2020

Siti Aiunun Makiyah. “Pandangan Hakim Pengadilan Agama Sidoarjo Terhadap Penerapan PERMA No. 3 Tahun 2017 Dalam Perkara Permohonan Izin Poligami”. Malang: Skripsi Sarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 2019

Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D, Cetakan Ke 27 Bandung: Alfabeta. 2018

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian “Suatu Pendekatan Praktik”. Jakarta: Rineka Cipta. 2013

SEMA No. 2 Tahun 2019 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2019 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan

SEMA No. 3 Tahun 2018 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2019 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan

Utami Linda. “Implementasi PERMA NO.3 Tahun 2017 Terhadap Hak Perempuan Dan Hak Anak Sebagai Akibat Dari Perceraian Di Pengadilan Agama Semarang”. Semarang: Skripsi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, 2019

Undang-Undang No. 1 Tahun 1975 Tentang Perkawinan

Yani Tri Zakiyah. “Latar Belakang Dan Dampak Perceraian". Skripsi Universitas Negeri Semarang. 2005.


Article Statistic

Abstract view : 139 times
PDF views : 90 times

How To Cite This :

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.