ISLAM DAN MARGINALISASI PEREMPUAN: KUASA PEREMPUAN DI BALIK PROSTITUSI WARUNG PANTURA

M. Ali Sofyan(1*)
(1) Institut Agama Islam Negeri Salatiga
(*) Corresponding Author
DOI : 10.21154/kodifikasia.v13i2.1831

Abstract

Diskursus tentang kuasa perempuan seolah tidak dapat dihentikan. Kuasa patriarki yang menjadi penyebab utama akhirnya tidak mampu untuk mengembalikan pada posisi setara. Salah satu kajian kuasa perempuan yang sering dilihat adalah ruang prostitusi atau lokalisasi. Ketika merujuk dalam konsep Islam jelas bahwa prostitusi sangat dilarang. Namun, kajian ini akan lebih melihat seperti apa freedom of women dalam persepektif Islam dan sosio kultural. Tulisan ini akan lebih dijelaskan dengan etnografi. Selain sebagai metode penulisan, etnografi juga digunakan dalam metode penelitian pada kajian ini. Warung di daerah Pantura (Batang, Jawa Tengah) yang dikenal menyediakan jasa prostitusi terletak di pinggir jalan pantura. Perempuan yang menawarkan jasa tersebut, sebagian besar bukan dari Batang. Dalam analisa awal, bahwa perempuan tersebut tidak dapat memiliki kuasa penuh atas dirinya. Pertama, mereka tidak memiliki warung tersebut, artinya mereka hanya sebagai pekerja yang harus berbagi keuntungan dengan pemilik warung. Kedua, kuasa atas tubuhnya tidak didapatkan karena tubuhnya dikonsumsi oleh publik dengan imbalan tertentu. Mereka merupakan bagian yang tersisihkan dari prostitusi kelas atas. Dalam perspektif Islam, perempuan tidak diciptakan untuk ditindas oleh siapapun. Analisa lebih jauh adalah sebenarnya dengan memberi label salah dan dosa, justru akan memberikan dampak semakin menjauh dengan agama. Pendekatan dengan kekerasan dan penghakiman (vigintalisme) tidak akan menyelesaikan masalah. Bagi perempuan dan konsumennya, ruang kemerdekaan seksualitas tidak boleh diganggu bagi siapapun. [The discourse on women's power is still widely debated. The patriarchal power which is the main cause is completely unable to shift to an equal position. One of the studies on women's power that is often seen is the space of prostitution or localization. When referring to the Islamic concept it is clear that prostitution is strictly prohibited. However, this study will reveal the freedom of women in the perspective of Islam and socio-culture. This paper is explained by ethnography method. Stalls in the Pantura area (Batang, Central Java) known provide the prostitution services that located on the edge of the northern coastal road. Most of the women who offer the services are originally not from Batang. In the first analysis, that woman cannot have full power over herself. First, the women are not the owner of the stall. It means that they only workers that share the profit with the stall owner. Second, power over their body is not obtained because their body is consumed by the public with certain rewards. They are an excluded part of upper class prostitution. In Islamic perspective, women are not created to be oppressed by others. The further analysis is by labelling them with wrong and sin, it will have an impact that they will run away from religion. An approach with violence and judging (vigintalism) will not solve the problem. For wonan and their consumer, the space for freedom of sexuality should not be disturbed by anyone].

Keywords


Kuasa perempuan; Etnografi; Islam; Prostitusi.

Article Statistic

Abstract view : 309 times
PDF views : 447 times

How To Cite This :

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.