The Relationship Between Islamic Fundamentalism and Radicalism With Social Conflict

Deni Irawan(1), Zarul Arifin(2*)
(1) Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas
(2) Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas
(*) Corresponding Author
DOI : 10.21154/altahrir.v21i1.2636

Abstract

Abstract: Islamic fundamentalism has often been accused as a source of conflict so that it should be ended immediately. And the radical movement should put forward a complete understanding of diverse religions. Likewise, in every movement, it is necessary to keep the political and economic interests away from religion, because such factors triggers inter-religious conflict. The brutal act by a group of people who claims the most righteous by displaying the most sinister and frightening face of Islam, is really far from Islamic values. Islam is rahmatan lil ‘alamin, especially towards fellow Muslims who believe in the truth of Islam based on the Koran and the Sunnah as the main and first source of Islamic teachings. If this motto is implemented seriously, the conflicts that have occurred will not be repeated. In its further development, fundamentalism undergoes a change, a shift, and is further away from its origin. The discussion of fundamentalism today is more associated with a negative impression that Islam is a religion of violence, anti-progress and establishment, conservative, antiWestern, and always takes violence to achieve its goals. This labeling and stigmatization of course has greatly marginalized Islam in international relations. This kind of stigmatization can be understood by Muslims so that they also hold counters in various ways, including counter discourse. However, the efforts made by Muslims have not been able to change the world view of Islam, especially the Western world. Islam to this day is still perceived as a violent religion.

 امللخص: كام يتم التعبري عنها يف كثري من األحيان يف شكل اتهامات ، بأن األصولية اإلسالمية مصدر للرصاع ويجب إنهاؤها عىل الفور. ويجب أن تعزز حركة الراديكالية الفهم الكامل ملختلف األديان. وباملثل يف كل حركة ، يجب إبعاد املحتوى السيايس واالقتصادي عن التنوع ، ألن هذا عامل يثري الرصاع باسم الدين. إن العمل الوحيش ملجموعة من األشخاص الذين يشعرون باألمان ويشعرون بالصالح من خالل إظهار الوجه األكرث رشاً وخوفاً لإلسالم بعيد كل البعد عن القيم اإلسالمية. اإلسالم هو رحمة لألمني ، وخاصة تجاه إخوانهم املسلمني الذين يؤمنون بحقيقة اإلسالم عىل أساس القرآن والسنة باعتبارها املصدر الرئييس واألول للتعاليم اإلسالمية. إذا تم طرح هذا ، فلن تتكرر النزاعات التي حدثت. يف التطورات الالحقة ، شهدت األصولية تغيريات وتحوالت وأبعدت عن أصلها. إن مناقشة األصولية يف الوقت الحايل مرتبطة أكرث باإلسالم بانطباع سلبي بأن اإلسالم دين عنيف ومعاد للتقدم ومؤسس ومحافظ ومعاد للغرب ويتخذ العنف دامئًا لتحقيق أهدافه. وبالطبع فإن هذا ً التوسيم والوصم يهمش اإلسالم حقا يف العالقات الدولية. ميكن للمسلمني أن يفهموا ويفهموا هذا النوع من الوصم حتى يتصدوا لها بطرق مختلفة ، مبا يف ذلك الخطاب املضاد. إال أن الجهود التي يبذلها املسلمون مل تكن قادرة عىل تغيري نظرة العامل اإلسالمي ، وخاصة ُنظر إىل اإلسالم عىل أنه دين عنف. العامل الغريب. حتى اآلن ، ال يزال ي

Abstrak: Seperti yang sering diungkapkan dalam bentuk tudingan, bahwa fundamentalisme Islam merupakan sumber konflik sehingga harus segera diakhiri. Dan gerakan radikalisme harus mengedepankan pemahaman yang utuh tentang beragam agama. Begitu pula dalam setiap gerakan, muatan politik dan ekonomi perlu dijauhkan dari keberagaman, karena inilah faktor yang memicu terjadinya konflik yang mengatasnamakan agama. Tindakan brutal sekelompok orang yang merasa paling aman dan merasa paling benar dengan menampilkan wajah Islam yang paling seram dan menakutkan, sungguh jauh dari nilai-nilai Islam. Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, terutama terhadap sesama umat Islam yang meyakini kebenaran Islam berdasarkan Alquran dan Sunnah sebagai sumber utama dan pertama ajaran Islam. Jika ini dikedepankan maka konflik yang telah terjadi tidak akan terulang kembali. Dalam perkembangan selanjutnya, fundamentalisme mengalami perubahan, pergeseran, dan semakin jauh dari asalnya. Pembahasan fundamentalisme saat ini lebih banyak dikaitkan dengan Islam dengan kesan negatif bahwa Islam adalah agama yang kekerasan, anti kemajuan dan kemapanan, konservatif, anti Barat, dan selalu mengambil kekerasan untuk mencapai tujuannya. Pelabelan dan stigmatisasi ini tentu saja sangat memarjinalkan Islam dalam hubungan internasional. Stigmatisasi semacam ini dapat dipahami dan dipahami oleh umat Islam sehingga mereka pun mengadakan tandingan dengan berbagai cara, termasuk tandingan wacana. Namun upaya yang dilakukan oleh umat Islam belum mampu mengubah pandangan dunia Islam, khususnya dunia Barat. Islam hingga saat ini masih dipersepsikan sebagai agama kekerasan.

Keywords


Islam; fundamentalism; radicalism; social conflic

References


References.

Ali, Mursyid, “Konflik Sosial Bernuansa Agama (Studi Kasus tentang Tragedi Kerusuhan Poso)”. Dalam Departemen Agama RI, Konflik Sosial Bernuansa Agama. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Keagamaan, 2003.

Assyaukanie, Luthfie, Islam Benar Versus Islam Salah Cet. 1; Jakarta: Kata Kita, 2007.

Azra, Azyumardi, Islam Reformis: Dinamika Intelektual dan Gerakan. Cet. 1; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999.

Barsihannor, Haruskah Membenci Ahmadiyah Cet. 1; Yogyakarta: Kota Kembang, 2009.

Coulson, Noel J. Konflik dalam Yurisprudensi Islam, terj. H. Fuad, Cet. 1; Yogyakarta: Navila, 2001.

Departemen Agama RI, Konflik Sosial Bernuansa Agama Seri II. Jakarta: Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Puslitbang Kehidupan Beragama Bagian Proyek Peningkatan Pengkajian Kerukunan Hidup Umat Beragama, 2003.

Esposito, John L., Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern Jilid 2, Cet. II; Bandung: Mizan, 2002.

Garaudy, Roger, Al-Ushuliyyat al-Mu’ashirah Asbabuha wa Muzahiruha, terjemah ke dalam Bahasa Arab oleh Khalil Ahmad Khalil. Paris: Dar ‘Am Alfain, 2000. Dikutip dalam Hery Sucipto, “Memahami Fundamentalisme Islam Kontemporer,” dalam Hery Sucipto, ed, Islam Mazhab Tengah: Persembahan 70 Tahun Tarmizi Taher. Cet. 1; Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2007.

Hanafi, Hassan Al-Din wa al-Tsaurah fi Mishr (vol. 6; Kairo: Madbuli, 1952-1981), h. 6; dikutip dalam Dikutip dalam Hery Sucipto, “Memahami Fundamentalisme Islam Kontemporer,” dalam Hery Sucipto, ed, Islam Mazhab Tengah: Persembahan 70 Tahun Tarmizi Taher. Cet. 1; Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2007.

Mathar, M. Qasim, Kimiawi Pemikiran Islam, Arus Utama Islam di Masa Depan (Naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar Filsafat Islam, Senin 12 Nopember 2007), h. 5. Dikutip dalam Barsihannor, Haruskah Membenci Ahmadiyah Cet. 1; Yogyakarta: Kota Kembang, 2009.

Mudzhar, H. M. Atho, Pendekatan Studi Islam Dalam Teori dan Praktek Cet. IV; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Mohamad, Mahathir, “Menjadi Muslim Fundamentalis” dalam Hery Sucipto, ed, Islam Mazhab Tengah: Persembahan 70 Tahun Tarmizi Taher Cet. 1; Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2007.

Muzadi, Hasyim, “NU, Radikalisme Ummatan Washato” dalam Hery Sucipto, ed, Islam Mazhab Tengah: Persembahan 70 Tahun Tarmizi Taher Cet. 1; Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2007.

Nahrawi, Muh. Nahar (Ketua Tim Penyusun, dkk; Kompilasi Peraturan Perundang-Undangan Kerukunan Hidup Umat Beragama Edisi ke-9. Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan, 2007.

Nasution, Harun, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Cet. V; Bandung: Mizan, 1998.

Shihab, Alwi, “Keturunan Arab dan Radikalisme Islam Indonesia” dalam Hery Sucipto, ed, Islam Mazhab Tengah: Persembahan 70 Tahun Tarmizi Taher Cet. 1; Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2007.

Sirry, Mun’im A. (ed), Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina (Anggota IKAPI), 2004.

Sucipto, Hery, “Memahami Fundamentalisme Islam Kontemporer,” dalam Hery Sucipto, ed, Islam Mazhab Tengah: Persembahan 70 Tahun Tarmizi Taher. Cet. 1; Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2007.

Sudjangi, “Konflik-Konflik Sosial Bernuansa Agama Studi Kasus Kerusuhan Ambon”, Dalam Departemen Agama RI, Konflik Sosial Bernuansa Agama. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Keagamaan, 2003.

Sumbullah,Umi, “Gerakan Fundamentalisme Islam Di Malang: Studi Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin, dan Arimatea” dalam Departemen Agama RI, Jurnal Penelitian Islam Indonesia, Istiqra’ 06, no. 01 (2007)

Suwartini, Titik, “Konflik-Konflik Sosial Bernuansa Agama Di Bebagai Komunitas (Kasus Kerusuhan Sosial di Banjarmasin 1977)” Dalam Departemen Agama RI, Konflik Sosial Bernuansa Agama Di Indonesia. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Keagamaan, 2003.

Syu’aibi, Ali dan Gils Kibil, Meluruskan Radikalisme Islam terj. Muhtarom. Cet. 2; t.t.: Duta Aksara Mulia, 2010.

Yunanto, S. “Agama dan Kekerasan Sebuah Catatan Politik Islam Indonesia,” Jurnal Multikultural dan Multireliguis Harmoni: 11, no. 6 (April-Juni 2003)


Article Statistic

Abstract view : 158 times
PDF views : 66 times

How To Cite This :

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.