Epistemological Transformation of Hadith Transmission in Post-3rd Century of Sufi Tradition
DOI:
https://doi.org/10.21154/dialogia.v23i02.12096Abstrak
Sufisme dan ahl al-ṣūfī mengalami perkembangan yang signifikan pada abad ketiga Islam, bersamaan dengan perkembangan sistematis berbagai ilmu Islam. Meskipun menggunakan hadis sebagai kerangka dasar untuk ajaran Sufi, metode transmisi di kalangan Sufi mengembangkan karakteristik yang berbeda dari studi hadis konvensional. Penelitian ini mengkaji perspektif Sufi terhadap hadis dan pendekatan unik mereka dalam transmisi. Menggunakan metodologi kualitatif-deskriptif melalui tinjauan literatur komprehensif, penelitian ini mengungkapkan bahwa Sufi lebih mengutamakan nilai-nilai dan makna intrinsik dalam narasi hadis daripada kriteria transmisi formal. Akibatnya, keaslian hadis dalam tradisi Sufi tidak ditentukan secara utama oleh keberadaan isnād (rantai transmisi), kepatuhan terhadap metodologi hadis standar, atau prinsip verifikasi konvensional lainnya. Sebaliknya, validitas dinilai melalui kesesuaian dengan ajaran Al-Qur’an, konsistensi dengan hadis yang terverifikasi, dan keselarasan dengan prinsip-prinsip Islam yang mendasar. Pendekatan epistemologis ini melegitimasi metode verifikasi alternatif, termasuk kashf (penyingkapan spiritual) dan pengalaman visioner, asalkan transmisi tersebut memenuhi kriteria yang disebutkan dan berasal dari para master Sufi yang secara spiritual maju (yang mencapai maqāmāt yang tinggi dalam hierarki Sufi).
Unduhan
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Ahmad Ubaidillah Ma'sum Al Anwari, Muhammad Akmaluddin

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Dialogia : Jurnal Studi Islam dan Sosial allow the author(s) to hold the copyright without restrictions and allow the author(s) to retain publishing rights without restrictions, also the owner of the commercial rights to the article is the author.




