STUDI FATWA AL-LAJNAH AL-DAIMAH LI AL-BUHUS AL-ILMIYAH WA AL-IFTA’: KRITIK ATAS LARANGAN MAHAR PERNIKAHAN BERUPA HAFALAN AL-QUR’AN

Ibnu Irawan(1*), Jayusman Jayusman(2), Agus Hermanto(3)
(1) Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
(2) Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
(3) Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
(*) Corresponding Author
DOI : 10.21154/kodifikasia.v13i2.1834

Abstract

Tulisan ini merupakan kajian pustaka yang mengkaji fatwa pelarangan mahar hafalan al-Qur’an. Sebagai alat analisis teori al-urf sangat tepat digunakan untuk memadukan kesenjangan tradisi yang berkembang dengan fatwa pelarangan tradisi tersebut. Tulisan ini mengkritisi fatwa tersebut dan menyimpukan; Pertama, fatwa mengedepankan aspek teoritis dan kurang memperhatikan aspek praktis yang tengah terjadi pada masyarakat. Kedua, metodelogi istinbat dalam berfatwa yang dilakukan adalah mengutamakan dalil-dalil muttafaq serta menomerduakan dalil-dalil mukhtalaf, sedangkan al-urf terkategori pada mukhtalaf sehingga kurang diperhatikan. Ketiga, Penulisan teks fatwa yang ada dianggap sangat singkat dan memerlukan kajian lebih lanjut agar memperoleh pemahaman dari maksud dari fatwa tersebut, sehingga menimbulkan kegamangan dan berpotensi menimbulkan silang pendapat. Keempat, prinsip fatwa yang digulirkan adalah berlepas dari mazhab tertentu, hal ini dianggap tidak sejalan dengan apa yang direkomendasikan oleh fukaha dan jauh dari mengayomi, karena proses beragama suatu masyarakat hendaknya memulainya dengan mengikuti mazhab tertentu agar tidak salah arah, dan tetap di dalam koridor keislaman yang benar. [This paper criticizes the fatwa on the prohibition of memorizing the Qur'an. As an analysis tool, al-urf theory is very appropriate to be used to integrate the growing of tradition gap with the fatwa prohibiting that tradition. This paper concludes; First, the fatwa emphasizes the theoretical aspects and pays little attention to the practical aspects that are happening to the community. Second, istinbat methodology in performing the obedience carried out is to prioritize the arguments of muttafaq as well as to put forward the arguments of the mukhtalaf, while the al-urf is categorized in the mukhtalaf so that it is heedless. Third, the writing of the existing fatwa text is considered to be very high and requires further study in order to gain an understanding the purpose of the fatwa, thus causing confusion and the possibility of the conflict. Fourth, the fatwa principle that is rolled out is not depend on a certain schools, by contrast with the recommendation of the jurist, because the religious process of a community should start by following the certain schools in order to remain stay in the Islamic pathway].

Keywords


Fatwa; Mahar Pernikahan; Hafalan al-Qur’an.

Article Statistic

Abstract view : 1002 times
PDF views : 804 times

How To Cite This :

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.