PEACE BUILDING BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI DUSUN TRENCENG DESA MRICAN JENANGAN PONOROGO

Siti Rohmaturrosyidah Ratnawati(1*)
(1) Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
(*) Corresponding Author
DOI : 10.21154/kodifikasia.v14i2.2231

Abstract

Dalam beberapa kasus, perbedaan suku, ras, agama, dan golongan seringkali menjadi pemicu konflik. Namun, ternyata hal tersebut tidak berlaku bagi masyarakat Dusun Trenceng Desa Mrican Jenangan Ponorogo. Meski masyarakatnya memiliki latar belakang perbedaan agama, namun mereka tetap mampu hidup berdampingan dengan harmonis. Hal ini tentu terjadi bukan tanpa sebab melainkan ada faktor yang turut berperan yang salah satunya adalah kearifan lokal masyarakat setempat. Untuk itu, artikel ini mengkaji secara mendalam tentang bentuk-bentuk kearifan lokal yang merajut harmoni antarumat beragama di Dusun Trenceng beserta fungsinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk kearifan lokal yang menyatukan masyarakat Dusun Trenceng yang multireligius diantaranya adalah perayaan hari raya, sambat-sinambat, gotong royong, kegiatan rutin masyarakat, perayaan hari besar nasional, dan slametan. Keseluruhan bentuk kearifan lokal masyarakat Dusun Trenceng tidak hanya berfungsi sebagai perekat hubungan antarumat beragama, melainkan juga memerankan fungsi sentral yang lain, yaitu sebagai penanda identitas, sarana resolusi konflik, memberi ‘warna’ keharmonisan dan kebersamaan bagi masyarakat, mengubah mindset dan menciptakan hubungan timbal balik individu dan kelompok dengan meletakkannya di atas common ground atau kearifan lokal yang dimiliki, dan berfungsi untuk mendorong tercipta dan terbangunnya kebersamaan, apresiasi, sekaligus sebagai sebuah mekanisme bersama untuk mencegah berbagai potensi yang mungkin saja dapat meredusir bahkan merusak solidaritas komunal masyarakat. [In some cases, differences in ethnicity, race, religion, and class often trigger conflict. But, it turns out that this does not apply to the society of Dusun Trenceng, Mrican Jenangan Ponorogo. Even though the societies have different religious backgrounds, they are still able to live in harmony. This certainly does not happen without a reason but there are factors that play a role, one of which is the local wisdom of the local community. For this reason, this paper examines the depth of the forms of local wisdom that weave inter-religious harmony in Trenceng village and their functions. This research used a qualitative research approach and type of case study research. The results showed that the forms of local wisdom that unite the multi-religious community of Trenceng village include the celebration of holidays, sambat-sinambat, mutual cooperation, routine community activities, national holidays celebrations, and slametan. The whole forms of local wisdom of Trenceng village society do not only serve as the glue for the relationship between religious believers in Trenceng village, but also play another central functions, namely as a marker of identity, as the tool of conflict resolution, providing a 'color' of harmony and togetherness to the community, changing mindset and creating reciprocal relationships between individuals and groups by placing them on the common ground or local wisdom they have, and the encouragement to create and to develop the togetherness, appreciation, as well as the mechanism to prevent various possibilities that may reduce and even destroy the communal solidarity of society.]

Keywords


Membangun perdamaian; Kearifan lokal; Masyarakat multireligi

References


Affandy, Sulpi. “Penanaman Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Meningkatkan Perilaku Keberagamaan Peserta Didik.” Atthulab 2, no. 2 (2017): 192–207.

Ainurrofiq, Faiq. “Beragama di Tengah Kebhinekaan: Pemaknaan Keberagamaan Pemeluk Buddha dan Islam di Dusun Sodong Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo.” Kodifikasia 12, no. 1 (2018): 49–61.

Alfian, Magdalia. “Potensi Kearifan Lokal Dalam Pembentukan Jati Diri dan Karakter Bangsa.” In Proceeding of the 5th International Conference on Indonesian Studies: “Ethnicity and Globalization,” 424–35. Yogyakarta, 2013.

Amirrachman, Alpha. “Revitalisasi Kearifan Lokal Untuk Perdamaian.” In Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi Resolusi Konflik di Kalimantan Barat, Maluku, dan Poso, diedit oleh Alpha Amirrachman. Jakarta: ICIP, 2007.

Budaya, Program Studi Agama dan Lintas. Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia Tahun 2008. Yogyakarta: CRCS UGM, 2008.

———. Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia Tahun 2009. Yogyakarta: CRCS UGM, 2010.

Echols, John M., dan Hassan Shadily. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia, 2005.

Geertz, Clifford. Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya, 1983.

———. Tafsir Kebudayaan (Refleksi Budaya). Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Haba, John. “Analisis SWOT Kearifan Lokal dalam Resolusi Konflik.” In Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi Resolusi Konflik di Kalimantan Barat, Maluku, dan Poso, diedit oleh Alpha Amirrachman. Jakarta: ICIP, 2007.

Haryanto, Joko Tri. “Kearifan Lokal Pendukung Kerukunan Beragama Pada komunitas Tengger Malang Jatim.” Analisa 21, no. 2 (2014): 201–13.

HS, Ahmad Fuad Hasyim. “Agama dan Lokalitas: Harmoni Sosial Berbasis Agama dan Kearifan Lokal di Desa Sampetan, Ampel, Boyolali.” Wahana Islamika 1, no. 1 (2015).

Jati, Wasisto Raharjo. “Kearifan Lokal Sebagai Resolusi Konflik Keagamaan.” Walisongo 21, no. 2 (2013): 393–416.

Kartawinata, Ade M. “Merentas Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi dan Tantangan Pelestarian.” In Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi, diedit oleh Ade Makmur, v–xviii. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, 2011.

Kertopati, R. Beny Wijarnako, dan Wahyu Eridiana. “Tranformasi Nilai-Nilai Adat (Studi Kasus Tranformasi Nilai-Nilai Kearifan Tradisional di Masyarakat).” Sosietas: Jurnal Pendidikan Sosiologi 9, no. 1 (2019).

Khalikin, Ahsanul. “Tradisi di Tengah Keberagamaan Media Interaksi Masyarakat Ende dalam Membangun Relasi antarumat Beragama.” Harmoni: Jurnal Multikultural & Multireligius 15 (2016): 38–53.

Nurhayati, Raden. “Tradisi Megoak-Goakan di Kabupaten Buleleng dan Relevansinya Terhadap Pariwisata Budaya di Bali (Kajian Etnopedagogi).” Al-Afkar: Journal for Islamic Studies 2, no. 2 (2019): 51–67.

Ratnawati, Siti Rohmaturrosyidah. “Multicultural-Based Islamic Religious Education in Ahmadiyya’s School: a Strategy to Strengthen the Moderation Vision of Indonesian Islam in School.” Cendekia: Jurnal Kependidikan dan Kemasyarakatan 18, no. 1 (2020): 117–37.

Ridwan, Nurma Ali. “Landasan Keilmuan Kearifan Lokal.” Ibda’: Jurnal Studi Islam dan Budaya 5, no. 1 (2007): 27–38.

Sartini. “Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati.” Jurnal Filsafat 37, no. 2 (2004): 111–20.

Sodli, Ahmad. “Revitalisasi Kearifan Lokal dalam Masyarakat Multikultural di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, NTB.” Analisa 17, no. 2 (2010): 187–200.

Subroto, Gathot. “Dampak Toleransi Antarumat Beragama Terhadap Perkembangan Pendidikan Islam di Dusun Trenceng Desa Mrican Kecamatan Jenangan Ponorogo.” Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 2016.

Wibowo, Agus, dan Gunawan. Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah (Konsep, Strategi, dan Implementasi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Wibowo, Arif, dan Khairil Umami. “Dari Pluralisme Disintegratif Menuju Pluralisme Integratif (Analisis Interaksionisme Simbolik Masyarakat Beda Agama di Kelurahan Karang, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri).” Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam 13, no. 1 (2019): 23–44.

Yusuf, Choirul Fuad. Konflik Bernuansa Agama: Peta Konflik Berbagai Daerah di Indonesia 1997-2015. Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2013.


Article Statistic

Abstract view : 83 times
PDF views : 41 times

How To Cite This :

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.