SOCIAL CAPITAL MANIFESTED IN PESANTREN: The Role and Contribution of Kiai Toward Padepokan Dimas Kanjeng’s Victims

Ahmad Fauzi(1*)
(1) (Scopus ID: 57193455560); Islamic Institute of Religion Zainul Hasan Genggong, Probolinggo
(*) Corresponding Author
DOI : 10.21154/altahrir.v20i1.1944

Abstract

Abstract: This research, praxis aims to describe and interpret various roles and social contributions of the kiai to victims of Dimas Kanjeng in Probolinggo. Sociologically, the existence of kiai in the midst of society occupies the most strategic position, even all forms of social action and advice are used as references and legitimacy for various social problems. Therefore, the presence of the kiai is understood as a pioneer of change in both the religious, moral, social and cultural fields of all domestic and social domestication (social and cultural domestication), especially for victims of Dimas Kanjeng. In this context, the existence of the kiai is an important part in providing enlightenment to overcome various problems that are happening, as a form of social change for victims of Dimas Kanjeng. Thus, to interpret and interpret the roles and social actions of the kiai, the researcher uses Pierre Bourdieu's social practice theory, between Habitus x Modal + Domain = Practice, with a qualitative approach and type of case study research. In praxis, this study produced several findings, including; 1) the presence of kiai and pesantren basically cannot be separated from scientific genealogy which is built through the Koran and al-Hadith, as core beliefs and core values, so that it becomes a social capital of the kiai (social capital) to practice social (social practice) and bring about changes in both the religious, moral and social fields, by transmitting universal religious values (kaffah), the view is expected to influence and inspire the thinking and social behavior of the community, especially for victims of Dimas Kanjeng, to shape individual piety and social piety; 2) the kiai's approach to social change, including; cultural approach, through a process of guidance regarding understanding Islamic teachings; a cultural approach, the involvement of the kiai in various socio-religious organizations becomes the main capital to influence the thinking and social behavior of other individuals; 3) various social contributions of the kiai include several aspects; kiai as social change, social cohesion, social harmonization; purification of the soul (tazkiyyat al-nafs) and moral fortifications in maintaining social integrity.

 

الملخص: يهدف هذا البحث العملي إلى وصف وتفسير الأدوار والمساهمات الاجتماعية المختلفة للشيوخ / العلماء لضحايا ديماس كانجينج في بروبولينجو. من الناحية الاجتماعية ، يحتل وجود العلماء / الشيخ في وسط المجتمع المكان الأكثر استراتيجية ، حتى يتم استخدام جميع أشكال العمل الاجتماعي والمشورة كمراجع وشرعية لمختلف المشاكل الاجتماعية. لذلك ، يُفهم وجود العلماء / الشيخ على أنه رائد التغيير في كل من المجالات الدينية والأخلاقية والاجتماعية والثقافية لجميع التدجين الاجتماعي والثقافي ، وخاصة بالنسبة لضحايا ديماس كانجينج. في هذا السياق ، يعد وجود العلماء / الشيخ جزءًا مهمًا في توفير التنوير للتغلب على المشكلات المختلفة التي تحدث ، كشكل من أشكال التغيير الاجتماعي لضحايا ديماس كانجينج. وبالتالي ، لتفسير الأدوار والإجراءات الاجتماعية للعلماء / الشيخ ، يستخدم الباحث نظرية الممارسة الاجتماعية لبيير بورديو ، بين habitus x modal + domain = Practice، مع نهج نوعي ونوع من أبحاث دراسة الحالة.  في الممارسة ، أنتجت هذه الدراسة العديد من النتائج ، بما في ذلك ؛ 1) لا يمكن فصل وجود العلماء والشيوخ والبيزنرة في الأساس عن علم الأنساب المبني من خلال القرآن والحديث ، كمعتقدات وقيم أساسية ، بحيث يصبح رأس المال الاجتماعي للكيي لتنفيذ الممارسات الاجتماعية وإحداث التغيير في المجال الديني ، من الناحية الأخلاقية والاجتماعية ، من خلال نقل القيم الدينية العالمية (الكفة) ، من المتوقع أن تكون هذه النظرة قادرة على التأثير وإلهام الفكر والسلوك الاجتماعي ، وخاصة لضحايا ديماس كانجينج ، لتشكيل التقوى الفردية والتقوى الاجتماعية ؛ 2) نهج العلماء / الشيخ في إحداث تغييرات اجتماعية ، بما في ذلك ؛ النهج الثقافي ، من خلال عملية الإرشاد بشأن فهم التعاليم الإسلامية ؛ من خلال نهج ثقافي ، تصبح مشاركة الكيان في مختلف المنظمات الاجتماعية الدينية هي العاصمة الرئيسية للتأثير على التفكير والسلوك الاجتماعي للأفراد الآخرين ؛ 3) تشمل المساهمات الاجتماعية المختلفة للشيوخ عدة جوانب ؛ العلماء / الشيخ كتغيير اجتماعي وتماسك اجتماعي ومواءمة اجتماعية ؛ تطهير الروح (تزكية النفس) والتحصينات الأخلاقية في الحفاظ على النزاهة الاجتماعية.

 

Abstrak: Penelitian ini praksis bertujuan untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan berbagai peran dan kontribusi sosial kyai kepada para korban Dimas Kanjeng di Probolinggo. Secara sosiologis, keberadaan kiai di tengah-tengah masyarakat menempati posisi paling strategis, bahkan semua bentuk aksi dan saran sosial digunakan sebagai referensi dan legitimasi untuk berbagai masalah sosial. Oleh karena itu, kehadiran kiai dipahami sebagai pelopor perubahan baik dalam bidang agama, moral, sosial dan budaya dari semua domestik dan sosial domestikasi (sosial dan budaya domestikasi), terutama untuk para korban Dimas Kanjeng. Dalam konteks ini, keberadaan kiai merupakan bagian penting dalam memberikan pencerahan untuk mengatasi berbagai masalah yang sedang terjadi, sebagai bentuk perubahan sosial bagi para korban Dimas Kanjeng. Dengan demikian, untuk menafsirkan dan menafsirkan peran dan tindakan sosial kiai, peneliti menggunakan teori praktik sosial Pierre Bourdieu, antara Habitus x Modal + Domain = Praktek, dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Dalam praksis, penelitian ini menghasilkan beberapa temuan, termasuk; 1) kehadiran kyai dan pesantren pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari silsilah ilmiah yang dibangun melalui Alquran dan al-Hadis, sebagai keyakinan inti dan nilai-nilai inti, sehingga menjadi modal sosial kiai (modal sosial) untuk mempraktikkan sosial (praktik sosial) dan membawa perubahan baik dalam bidang agama, moral dan sosial, dengan mentransmisikan nilai-nilai agama universal (kaffah), pandangan ini diharapkan dapat mempengaruhi dan menginspirasi pemikiran dan perilaku sosial masyarakat, terutama bagi para korban Dimas Kanjeng, untuk membentuk kesalehan individu dan kesalehan sosial; 2) pendekatan kiai terhadap perubahan sosial, termasuk; pendekatan budaya, melalui proses bimbingan tentang memahami ajaran Islam; pendekatan budaya, keterlibatan kiai dalam berbagai organisasi sosial keagamaan menjadi modal utama untuk mempengaruhi pemikiran dan perilaku sosial individu lain; 3) berbagai kontribusi sosial kiai mencakup beberapa aspek; kyai sebagai perubahan sosial, kohesi sosial, harmonisasi sosial; pemurnian jiwa (tazkiyyat al-nafs) dan benteng moral dalam menjaga integritas sosial.

Keywords


social capital; pesantren; kyai; social contribution

References


Abbas Langaji, Dinamika Aliran Keagamaan Sempalan Tinjauan Perspektif Sosiologi Agama, Proceedings, Annual International Conference on Islamic Studies AICIS XII, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2014.

Abdul Djamil, Perlawanan Kiai Desa; Pemikiran dan Gerakan Islam K.H. Rifa’i Kali Salah, Jogjakarta, LKis, 2001.

Abdurrahman Wahid, Pesantren dan Pembaharuan, Jakarta: LP3ES, 1974.

Abdurrahman Wahid, Pesantren sebagai Subkultur, Pesantren dan Pembaharuan, Jakarta: LP3ES , 1974.

Ahmad Siddiq, The Son of The Mosque; Religious Commodification With Social Relationship Between Kyai and Madurese Workers in Malaysia,Yogyakarta, Tesis CRCS UGM, 2008.

Ali Maschan Moesa, Nasionalisme Kiai Konstruksi Sosial Berbasis Agama, Yogyakarta: Lkis, 2007.

Alvesson, Mats dan Kaj Skoldberg, Reflexive Methodology: New Vistas for Qualitative Research, London, Thousand Oaks, New Delhi: SAGE Publications, 2000.

Anthony Giddens, Central Problem in Social Theoty, Berkeley & Los Angeles: University of Callifornia Press, 1997.

Clifford Geertz, The Javanese Kijaji: The Changing Role of a Cultural Broker, dalam Comparative Studies in Society and History, Vol. 2, No.2, 1960.

Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES 1982.

Dirdjosanjoto, Pradjarta, Memelihara Umat: Kiai Pesantren-Kiai Langgar di Jawa, Yogyakarta; LkiS, 1999.

Djamaludin Ancok. Revitalisasi Sumber Daya Manusia dalam Era Perubahan, Kelola: Gadjah Mada University Business Review, No.8, 1995.

Endang Turmudi, Perselingkuhan Kyai dengan Kekuasaan, LKiS: Jogjakarta, 2003.

Gay Hendricks dan Kate Ludeman, The Corporate Mystic: A Guidebook for Visionarities with Their Feet on the Ground, New York: Bantam Books, 1996.

Geertz, Clifford, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Surabaya: Pustaka Jaya, 1989.

Geertz, Clifford, The Javanese Kijaji: The Changing Role of a Cultural Broker, dalam Comparative Studies in Society and History, Vol. 2, No.2, 1960.

Harker, R. dkk, Habitus x Modal +Ranah = Praktik, Pengantara Paling Komprehensif Kepada Pemikiran Pierre Bourdieu, Jogjakarta; Jalasutra, 2009.

Haryatmoko, Menyingkap Kepalsuan Budaya Pengasa, Jakarta: Jurnal Basis, No. 11- 12, 2003.

Hiroko Horikhosi, Kyai dan Perubahan Sosial, Jakarta; P3M, 1987.

Ibnu Qoyim Isma'il, Kiai Penghulu Jawa: Peranannya di Masa Kolonial, Jakarta: Gema Insani Press. 1997.

Imam Bawani, Pola Modernisasi Pesantren di Indonesia dalam Tarekat, Pesantren dan Budaya Lokal, Surabaya: Sunan Ampel Press, 1999.

M. Khanif Dakhiri, Kiai Kampung dan Demokrasi Lokal, Jogjakarta; KLIK. R., 2007

Manfred Ziemek, Pesantren dalam Perubahan Sosial, Jakarta: P3M., 1986.

Martin Bruinessen, Van, Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1995.

Martin Van Bruinessen, Gerakan Sempalan, Rakyat kecil Islam dan Politik, Anotasi Nomor 1, h. 206

Max Weber, The Theory of Social and Economic Organization. Ter. Talcott Parson, New York: The Free Press, 1966.

Michael Adas, Prophets of Rebellion: Millenarian Protest Movements against the European Colonial Order, University of North Carolina Press, 1979.

Michael S. Northcott, Sociological Approach dalam Peter Connoly (E.d.), Approaches to the Study of Religion.

Mocsa, Ali Maschan, Nasionalisme Kiai Konstruksi Sosial Berbasis Agama, Yogyakarta: PT, LkiS Pelangi Aksara, 2007.

Mohammad Kosim, Kyai dan Blater, Elite Lokal Masyarakat Madura, Ejournal Karsa, STAIN Pamekasan, Vol XII, No II, 2007.

Northcott, Michael S, Sosiological Approach dalam Peter Connoly (Ed.), Approaches to the Study of Religion, London: Cassel, 1999.

Pierre Bourdieu, Distinction: a Social Critique of the Judgement of Taste, terj. Richard Nice, UK: Routledge & Kegal Paul Ltd, 1984.

Pierre Bourdieu, The Field of Cultural Production Essays on Art and Literature, Cambridge: Polity Press, 1993.

Pradjarta Dirdjosanjoto, Memelihara Umat; Kiai Pesantren, Kiai Langgar di Jawa, Jogjakarta, LkiS, 1999.

Putnam, Robert, The Prosperous Community: Social Capital and Public Life," The American Prospect,13, Spring 1993.

Richard Harker, Cheelen Mahar dan Chris Wilkes, (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu, terj. Pipit Maizier, Yogyakarta: Jalasutra, 2009.

Richard Jenkins, Pierre Bourdieu, London: Routledge, 1992.

Ritzer, George dan Goodman, Douglas J, Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmoder Terj Nurhadi,Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2010.

Scott, James, The Erosion of Patron-Client Bonds and Social Change in Rural Southeast Asia, Journal of Asian Studies, November, 1972.

Sukamto, Kepemimpinan dan Struktur Kekuasaan Kyai, Prisma, XXVI, April, Mei; 1997.

Tolchah Hasan, Islam dalam Perspektif Sosial Budaya, Galasa Nusantara, Jakarta, 1987.

Turmudi, E., Perselingkuhan Kiai dan Kekuasaan, Yogyakarta: LKiS, 2003.

Zainal Arifin Toha, Runtuhnya Singgasana Kiai, NU, Pesantren dan Kekuasaan: Pencarian Tak Kunjung Usai, Cet.II, Yogyakarta: Kutub, 2003.

Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakarta: LP3ES, 1994.


Article Statistic

Abstract view : 219 times
PDF views : 138 times

How To Cite This :

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.