Indonesian Political Kleptocracy and Oligarchy: A Critical Review from the Perspective of Islamic Law

Autor(s): Anita Marwing
DOI: 10.21154/justicia.v18i1.2352

Abstract

This study discusses corruption in the Indonesian political system from Islamic law, particularly regarding the Kleptocracy and political oligarchy. One of the most basic corruption causes comes from an internal personality factor, human’s character; greedy and consumptive. Additionally, some factors also come from human external factors, namely the perpetrators' coercion because they are tied to a system. Corruption is carried out not only by individuals but also in cooperation/conspiracy between the bureaucracy and corporations and political parties. Elites called them Kleptocracy and political oligarchy. This research is descriptive qualitative research with an approach based on legal analysis. This research has found several things. First, corruption in the Indonesian political system can be categorized into acts of Ghulul (treachery), Risywah (Gratification/bribery), Khiyanah (Unfaithful), Sariqah (theft), and Hirabah (Grand Theft/ Robbery). Second. The strategy to eradicate corruption in an Islamic perspective can be carried out by imposing sanctions, including sanctions in the world's dimensions and the hereafter. This research encourages the strengthening of the socio-religious system, especially among religious leaders, as a preventive and curative form of handling corruption in the political system in Indonesia.

Penelitian ini membahas tentang korupsi dalam sistem politik Indonesia dalam perspektif hukum Islam, khususnya tentang kleptokrasi dan oligarki politik. Salah satu faktor penyebab korupsi yang paling mendasar adalah faktor kepribadian internal yang tamak, rakus dan konsumtif. Selain itu ada faktor yang memberi pengaruh lebih besar yakni faktor yang datang dari luar diri manusia, karena korupsi yang terjadi dewasa ini kadang adanya unsur keterpaksaan pelaku sebab terikat dalam sebuah sistem. Korupsi saat ini tidak hanya dilakukan oleh perorangan melainkan dalam bentuk kerjasama/persekongkolan antara birokrasi dan korporasi serta para elit-elit partai politik yang disebut dengan kleptokrasi dan oligarki politik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan berdasarkan legal hukum analisis. Dalam penelitian ini menemukan beberapa hal. Pertama, korupsi dalam dalam sistem politik Indonesia dapat dikategorikan dalam perbuatan Ghulul (Berkhianat), Risywah (Gratifikasi/suap), Khiyanah (Khianat), Sariqah (pencurian), dan Hirabah (Pencurian Besar/Perampokan). Kedua. Strategi pengentasan korupsi dalam perspektif Islam dapat dilakukan dengan pemberian sanksi yang meliputi sanksi berdimensi dunia dan akhirat. Riset ini mendorong penguatan sistem sosio-religi terutama keadaan para pemuka agama sebagai bentuk preventif dan kuratif penanganan korupsi dalam sistem politik di Indonesia.

Keywords

Kleptocracy; Political Oligarchy; Islamic Law

Full Text:

PDF

References

Acemoglu, Daron, Thierry Verdier, and James A. Robinson. “Alfred Marshall Lecture Kleptocracy And Divide-And-Rule: A Model of Personal Rule.” Journal of the European Economic Association 2, no. 2 (2004): 162–92.

Alasyas Assubuhastani, Abu Daud Sulaiman bin. Sunan Abu Daud. Vol. 2. 2710. Bairut-Libanon: Darul Kutub, 1996.

Ali, La Ode Bunga, and Muh. Sutri Mansyah. “Penafsiran Keterangan Palsu Dalam Persidangan Tindak Pidana Korupsi Kaitannya Kasus Obstruction of Justice: Kajian Putusan Nomor 14/Pid/Tpk/2015/Pt.DKI.” Justicia Islamica: Jurnal Kajian Hukum Dan Sosial 16, no. 1 (2019).

Annaisaburi, Abu Husain Muslim bin Hajjaj Alqusyairi. Kepemimpinan. Bairut-Libanon: Darul Fikri, 1993.

Andiko, T. “Sanksi Bagi Pemberi Dan Penerima Gratifikasi Perspektif Hukum Pidana Islam.” Qiyas: Jurnal Hukum Islam Dan Peradilan 1, no. 1 (2017): 117–32.

Coates, Patricia Gloster, and Linda Quest. “Kleptocracy: Curse of Development.” International Social Science Review 8, no. 1 (2015): 3–19.

Departemen Agama RI. Al-Qur’an Dan Terjemahannya. Bandung: J-Art, 2004.

Hakim, Nugraha Ikhsanul. “Pembuktian Terbalik Dalam Tindak Pidana Korupsi Ditinjau Dari Fiqh Jinayah (Studi Di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Palembang).” Skripsi, UIN Raden Fatah, 2019.

Hamzah, Amir. Metode Penelitian Kepustakaan. Malang: CV. Literasi Nusantara Abadi, 2020.

Harto, K. “Pendidikan Anti Korupsi Berbasis Agama. , 20, No.1, (2014): 121-138.” Intizar 20, no. 1 (2014): 121–38.

Hatees, Budi. Ulat Di Kebun Polri ( Dinamika Penegakan Keadilan Hukum). Jakarta: Raih Asa Sukses, 2013.

Heywood, Paul M. “Rethinking Corruption: Hocus-Pocus, Locus and Focus. The Slavonic and East European Review.” Innovations in Corruption Studies 95, no. 1 (January 2017): 21–48.

Indonesia Corruption Watch. “Outlook Korupsi Politik 2018:Ancaman Korupsi Di Balik Pemilu 2018 Dan 2019.” Jakarta, 2018.

Jahja, H.Juni Sjafrien. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Jakarta: Fokus Media, 2008.

Jane, Elliott. Using Narrative in Social Research: Qualitative and Quantitative Approaches. London: Sage Publication Ltd, 2005.

Junius Nge, Herri. “Oligarki Partai Politik Dalam Rekrutmencalon Kepala Daerah (Studi Kasus Munculnya Calon Tunggal Pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Landak Tahun 2017).” Jurnal Academia Praja 1, no. 1 (2018): 59–84.

Kantaprawira, Rusdi. Sistem Politik Indonesia. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1985.

Kennedy, David. “Anarchism, Shooling, and Democratic Sensibility.” Stud Philos Educ, 2016, 1–18.

LaPorte, Jody. “Foreign versus Domestic Bribery: Explaining Repression in Kleptocratic Regimes.” Comparative Politics 50, no. 1 (October 2017): 83–102.

Marzuki, Peter Mahmud. Penelitian Hukum. Jakarta: Prenada Media Group, 2011.

Muhammadiyah dan Nahdaltul Ulama (NU). Korupsi Itu Kafir. Jakarta: Mizan, 2010.

Muhaki, M. “Problem Delik Korupsi Dalam Hukum Pidana Islam.” Jurnal Studi Islam: Pancawahana 12, no. 2 (2017): 22–38.

Pardede, Marulak. “Aspek Hukum Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Oleh Korporasi Dalam Bidang Perpajakan (Legal Aspect of Eradication Of Corruption Criminal Act In Taxation).” Jurnal Penelitian Hukum De Jure 20, no. 3 (2020): 335–61.

Pardo, Italo. “Who Is Corrupt ? Anthropological Reflections On The Moral, The Criminal And The Borderline.” Human Affairs 23 (2013): 124–47.

Samsuddin, Haris, Cakti Indra Gunawan, and Cahyo Sasmito. “Membongkar Relasi Kekuasaan Oligarki di Kota Batu: Studi Kasus Penyalahgunaan Kekuasaan Dalam Pemberian Keringanan Pajak Dan Korupsi Kebijakan Pt Bwr.” Jurnal Ilmu Administrasi XVI, no. 2 (2019): 210–27.

Santoso, Listiyono, Dewi Meyriswati, and Ilham Nur Alfian. “Korupsi Dan Mentalitas: Kendala Kultural Dalam Pemberantasan Korupsi Di Indonesia.” Masyarakat, Kebudayaan Dan Politik 27, no. 4 (2014): 173–83.

Satriajaya, Johan, Lilik Handajani, and I Nyoman Nugraha Ardana Putra. “Turbulensi Dan Legalisasi Kleptokrasi Dalam Pengelolaan Keuangan Desa.” Jurnal Akuntansi Multiparadigma JAMAL 8, no. 2 (2017): 227–429.

Simarmata, Markus H. Peranan. “E-Government Dan Media Sosial Untuk Mewujudkan Budaya Transparansi Dan Pemberantasan Korupsi.” Jurnal Integritas KPK 3, no. 2 (2017): 203–29.

Suryani, Ita. “Peran Media Iklan Televisi Sebagai Media Kritik Kasus Korupsi (Studi Kasus Pada Iklan Konten Djarum 76 Versi Kontes Jin).” Jurnal Komunikasi 9, no. 2 (2015).

Wahid, Abdul. “Kolaborasi Kleptokrasi Birokrasi Dan Korporasi.” Jurnal Yurispunden 1, no. 1 (2018): 1–16.

Warf, Barney. “Global Geographies of Corruption.” GeoJournal 81, no. 5 (2016): 657–69.

Wolf, Mark L. “The World Needs an International Anti-Corruption Court.” Daedalus 147, no. 3 (2018): 144–56.

Yuhermansyah, E., and Z. Fariza. “Pidana Mati Dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Kajian Teori Zawajir Dan Jawabir).” Legitimasi: Jurnal Hukum Pidana Dan Politik Hukum 6, no. 1 (2017): 156–74.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.