Application of Halal Certification by Indonesian Ulema Council on Electronic and Non-Consumption Products: Maslahah Perspective

Autor(s): Zarul Arifin, Hatoli Hatoli
DOI: 10.21154/justicia.v18i1.2397

Abstract

The background of this research is indications from those who criticize the granting of halal certification on electronic and non-consumption products. At the same time, the critics say that the granting of halal certification is only a religious capitalization, the mode of following the MUI trend, getting fees. Some say that this is the miss-perception. This research was conducted in August 2019. This study analyzes how MUI halal certification is in electronic and non-consumption products and how halal certification in electronic and non-consumption products is in perspective. This type of research is field research with an empirical sociological approach and descriptive qualitative research. Data collection techniques used are literature, interviews, and documentation based on secondary sources obtained from dictionaries, brochures, expert opinions, and religious leaders. Based on the study results, it is concluded that the application of MUI halal certification in electronic products is still voluntary, so there is no mandatory (obligation) from business actors to register their products in obtaining halal certification. The application of MUI halal certification in electronic and non-consumer products, firstly for refusingmudharat must take precedence over taking little benefit. Secondly, for companies or producers, applying for halal certification aims to provide a sense of security and comfort in the community and increase the added value of their products and finally, the existence of halal products even though they are non-consumption besides having benefits for people because they are more confident in the products used also giving benefit to the company and fulfilling the provisions in the Act.Theoretically, this research's benefits are expected to provide reading sources and guidelines for the development of science, especially in Islamic law related to halal certification by the Indonesian Ulema Council on electronic and non-consumer products. Practically, the results of this study are expected to provide clear information to the public regarding the application of halal certification by the Indonesian Ulema Council on electronic and non-consumption products.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya indikasi dari pihak yang mengkritisi pemberian sertifikasi halal pada produk elektronik dan non konsumsi, sedangkan yang mengkritik pemberian sertifikasi halal hanya sebagai kapitalisasi agama, modus mengikuti trend MUI, mendapat iuran dan ada yang bilang kaprah ini salah. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2019. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana sertifikasi halal MUI pada produk elektronik dan non konsumsi serta bagaimana penerapan sertifikasi halal pada produk elektronik dan non konsumsi. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan sosiologis empiris, penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi berdasarkan sumber sekunder yang diperoleh dari kamus, brosur, pendapat ahli, dan pemuka agama. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan sertifikasi halal MUI pada produk elektronik masih bersifat sukarela, sehingga belum ada keharusan (kewajiban) dari pelaku usaha untuk mendaftarkan produknya untuk memperoleh sertifikasi halal. Penerapan sertifikasi halal MUI pada produk elektronik dan non-konsumen yang pertama menolak mudharat harus diutamakan daripada mengambil manfaat yang kecil. Kedua bagi perusahaan atau produsen, pengajuan sertifikasi halal bertujuan untuk memberikan rasa aman dan nyaman pada masyarakat serta meningkatkan nilai tambah produknya dan akhirnya keberadaan produk halal meskipun tidak dikonsumsi, selain bermanfaat bagi masyarakat. karena mereka lebih yakin produk yang digunakan juga menguntungkan perusahaan, serta memenuhi ketentuan di UU. Secara teoritis, manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumber bacaan dan pedoman bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang syariat Islam terkait penerapan sertifikasi halal oleh Majelis Ulama Indonesia pada produk elektronik dan non konsumen. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat terkait penerapan sertifikasi halal oleh Majelis Ulama Indonesia pada produk elektronik dan non konsumsi.

Keywords

MUI; Halal Label; Certification

Full Text:

PDF

References

A. Muin dkk. Ushul Fiqh II. Jakarta: Departemen Agama, 1986.

Abdul Azis Dahlan. Ensikplopedi Hukum Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999.

Abdul Karim Zaydan. Ushul Fiqh. Surabaya: Media, 2009.

Aminatuz Zahrah. “Halal Food Di Era Revolusi Industri 4.0; Prospek Dan Tantangan.” Indonesia Journal of Multidisciplinary Islamic Studies vol. 3, 2 (July 2019): 128.

Amir Syarifuddin. Ushul Fiqh. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.

———. Ushul Fiqh Jilid 2. Jakarta: Kencana Pranada Grup, 2009.

Asmawi. Aplikasi Kaidah Maslahah Dalam Delik Ta’zir, Dalam Laporan Penelitian Individu. Jakarta: Lemlit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2005.

Dewi Kirana Windikusama. Pengaruh Kesadaran Halal Terhadap Sikap Dan Implikasinya Terhadap Minat Beli Ulang. Semarang: Universitas Diponegoro, 2015.

Efendi Satria. Ushul Fiqh. Jakarta: Pranada Media, 2005.

Eka Dyah Setyaningsih. “The Effect of Halal Certification and Halal Awareness Through Interest in Decisions on Buying Halal Food Products.”.” Journal Of Islamic Economics, Finance And Banking Vol. 3 No. 1 Mei 2019.

“Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 6/MUNAS/VII/MUI/10/2005, Tentang Kriteria Maslahah, 485.,” n.d.

H. M. Hasbi Umar. Nalar Fiqh Kontemporer Cet. I. Jakarta: Gaung Persada Press, 2007.

Hamka Haq. Filsafat Ushul Fiqh. Makassar: Yayasan Al Ahkam, 1998.

Harun. “Pemikiran Najmudin At-Thufi Tentang Konsep Maslahah Sebagai Teori Istinbath Hukum Islam.” Jurnal Digital Ishraqi, 5 No 1 (2019).

Hayyun Durrotul Faridah. “Sejarah Sertifikasi Halal Di Indonesia Sejarah, Perkembangan, Dan Implementasi.” Journal Of Halal Product and Research, 2, no 2 (Desember 2019).

Ichwan Sam. Ijma Ulama Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Se Indonesia Tahun 2009. Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 2009.

Imam An Nawawi. Syarh Arbain An Nawawiyah. Jakarta: Darul Haq, 2006.

Jamal Makmur Asmani. Fiqh Sosial Kiai Sahal, Antara Konsep Dan Implementasi. Jakarta: Khalista, 2009.

Junaidi Lubis. Islam Dinamis. Jakarta: PT Dian Rakyat, 2010.

“Lihat, Pasal 1 Ayat (5) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal.,” n.d.

“Lihat, Pasal Pasal 5 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal.,” n.d.

“Lihat,Pasal 1 Ayat (10) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal,” n.d.

M. Atho Mudzhar. Esai-Esai Sejarah Sosial Hukum Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.

Makruf Amin. Fatwa Dalam Sistem Hukum Islam. Jakarta: eISAS, 2008.

Mashudi. Kontruksi Hukum Dan Respons Masyarakat Terhadap Sertifikasi Produk Halal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Moch Syarifuddin. “Maslahah Sebagai Alternatif Istinbath Hukum Dalam Ekonomi Syariah.” Jurnal Lentera Keagamaan, Kelilmuan, Dan Teknologi, 17 No 1 (2018).

Moh. Mahrus. “Al Maslahah Menurut Abu Hanifah, Karakteristik, Kehujjahan, Dan Signifikasinya Dalm Berijtihad.” Jurnal Hukum Islam, 14, No 1 (2015).

Mohamad Nadtratuzzaman Hosen. Panduan Umum Sistem Jaminan Halal. Jakarta: LPPOM MUI, 2008.

Muhammad Syarif Hidayatullah. “Sertifikasi Dan Labelisasi Halal Pada Makanan Perspektif Hukum Islam.” Yudisia Jurnal Pemikiran Dan Hukum Islam, 11, 2 (Desember 2020).

Muhammad Yunus. Kamus Arab Indonesia. Jakarta: Yayasan Penyelenggaraan Penerjemah dan penafsiran Al Quran, 1973.

Muhtar Ali. “Konsep Makanan Halal Dalam Tinjauan Syariah dan Tanggung Jawab Produk Atas Produsen Industri Halal.” Vol 16 No. 02 (Desember 2016).

Munawar Kholil. Kembali Kepada al Quran Dan as Sunnah. Semarang: Bulan Bintang, 1955.

“Neng Dara Affiah in the British Broadcasting Corporation (BBC) Indonesia, Written by Callistasia Wijaya (BBC Indonesia Journalist), as of 14 August 2019.,” n.d.

Panji Adam. “Kedudukan Sertifikasi Halal Dalam Sistem Hukum Nasional Sebagai Upaya Perlindungan Konsumen Dalam Hukum Islam.” Amwaluna, 1, (Januari 2017.

Prayuti, Yuyut. “Muslim Food Consumer Protection Through The Regulation Of Halal Labels In Indonesia.” Jurnal IUS Kajian Hukum Dan Keadilan 8, no. 1 (April 28, 2020): 17–25. https://doi.org/10.29303/ius.v8i1.716.

Rahmat Syafi’i. Ilmu Ushul Fiqh. Bandung: Cv Pustaka Setia, 2010.

Siti Muslimah. “Label Halal Pada Produk Pangan Kemasan Dalam Perspektif Perlindungan Konsumen Muslim.” Jurnal Yustisia Vol. 1 No. 2 (2012).

Syafrida. “Sertifikat Halal Pada Produk Makanan Dan Minuman Memberi Perlindungan Dan Kepastian Hukum Hak-Hak Konsumen Muslim.” Jurnal Hukum, 7, no 2, (2016).

Totok Jumantoro. Kamus Ilmu Ushul Fiqh. Jakarta: Amzah, 2009.

Wahyu Suseno. “Tingkat Penggunaan Bahan Tersertifikasi Halal Berdasarkan Usulan Bidang Audit Kepala Tim Komisi Fatwa Provinsi Banten.” Indonesian Journal Of Halal Vol. 8. No. 1 (2018).

“Wijayanto Samirin and Sukoso in British Broadcasting Corporation (BBC) Indonesia, Written by Callistasia Wijaya (BBC Indonesia Journalist), as of 14 August 2019.,” n.d.

Zulham. Peran Negara Dalam Perlindungan Konsumen Muslim Terhadap Produk Halal. Jakarta: Kencana, n.d.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.