Punishment of Criminal Act of Accusing Adultery (Qadzaf) in Indonesian Positive Law: Perspective of Maqasid al-Sharia

Autor(s): Sudarti Sudarti, Ainun Najib
DOI: 10.21154/justicia.v18i2.2711

Abstract

Amid the hectic new social space (virtual space), mediated reality, and an era of disruption, the truth of information spread via media is hard to determine, especially with the outbreak of hoaxes that have become a trending issue the past few decades. Hoaxes are a virtual crime, an act committed via the spread of false stories. Hoaxes can be in the form of accusations of another person committing an immoral act and defamation (assassination character), in this case, accusing another person doing adultery. The author argues that the issue of the criminal act of accusing adultery (qadzaf) in positive Indonesian law is significant to be studied since provisions of positive Indonesian law, as stated in Criminal Code, do not specifically discuss the criminal act of accusing adultery (qadzaf). This study aimed to analyze the problem of the criminal act of accusing adultery (qadzaf) in positive law by using maqa>s{id al-Sharia. The study is library research conducted by examining materials from the main book relating to problems and other supporting qualitative research studies. This research employed a descriptive-analytical method by describing the legal materials obtained, and then they were analyzed using maqa>s{id al-Sharia. The research results showed that punishment for the perpetrator of a criminal act of accusing adultery (qadzaf) as regulated in Article 310 paragraph (1) of the Criminal Code is a maximum imprisonment of nine months and or a maximum fine of four thousand and five hundred rupiahs. The aspect of d{arūriyyāt about punishment for perpetrators of accusing adultery (qadzaf) is the protection of honor (ifz{ al-‘ir{{d). This aspect relates to everyone’s honor that must be protected. Through the legislative institution, a country needs to reconstruct the Criminal Code into a better law, such as revising a particular chapter that has not fulfilled a sense of justice in eradicating crime very disturbing society since a policy must righteously be able to settle the problems in society. Based on the changes in law, following the development of social life and technology today is inevitable.

Di tengah riuhnya ruang sosial baru (ruang virtual), realitas yang termediasi, era disrupsi, kebenaran informasi yang tersebar via media sangat sulit ditentukan, apalagi dengan menyeruaknya hoax yang sejak beberapa dekade belakangan menjadi tren isu. Hoax menjadi bentuk kejahatan virtual; suatu tindakan yang dilakukan via penyebaran cerita palsu, dapat berupa tuduhan orang lain melakukan tindakan buruk, dan pencemaran nama baik (assassination character); dalam hal ini menuduh orang lain berbuat zina. Penulis berpendapat bahwa persoalan tindak pidana menuduh zina (qadzaf) dalam hukum positif Indonesia penting dikaji mengingat dalam ketentuan hukum positif Indonesia sebagaimana yang terdapat dalam KUHP tidak membahas secara khusus mengenai tindak pidana menuduh zina (qadzaf). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persoalan tindak pidana menuduh zina (qadzaf) dalam hukum positif dengan menggunakan maqa>s{id al-Sharia. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka, yaitu penelitian yang dilakukan dengan menelaah bahan-bahan dari buku utama yang berkaitan dengan masalah dan buku penunjang lainnya yang berkaitan dengan kajian penelitian yang bersifat kualitatif. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskriptif analitis dengan cara menguraikan bahan hukum yang diperoleh, selanjutnya menganalisis dengan menggunakan pisau analisis maqa>s{id al-Sharia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sanksi bagi pelaku tindak pidana menuduh zina (qadzaf) sebagaimana diatur dalam Pasal 310 ayat (1) KUHP adalah pidana penjara paling lama sembilan bulan dan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Aspek d{arūriyyāt yang berkenaan dengan hukuman bagi pelaku menuduh zina (qadzaf) adalah aspek perlindungan terhadap kehormatan (ifz{ al-‘ir{{d). Aspek ini berkaitan dengan kehormatan setiap orang yang harus dilindungi. Negara melalui lembaga legislatif perlu melakukan restrukturisasi KUHP kepada hukum yang lebih baik agar dapat tercipta suatu hukum yang baik, seperti melakukan revisi terhadap pasal tertentu yang dianggap masih belum memenuhi rasa keadilan dalam rangka memberantas kejahatan yang sudah sangat meresahkan masyarakat, karena sebuah kebijakan selayaknya harus mampu menjawab masalah dimasyarakat. Pada dasarnya perubahan undang-undang merupakan sebuah keniscayaan dalam rangka mengikuti perkembangan kehidupan sosial masyarakat dan teknologi saat ini.

Keywords

Indonesian positive law; qadzaf; maqasid al-Sharia

Full Text:

PDF

References

A>sy-Syat{ibi, Abu> Isha>q. Al-Muwa>faqa>t fi> Us{u>l asy-Syari>’ah. Kairo: Must{afa> Muhammad, t.t.

Afridawati. “Stratifikasi Al-Maqashid Al-Khamsah (Agama, Jiwa, Akal, Keturunan dan Harta) dan Penerapannya dalam Maslahah.” Jurnal Al-Qishthu 13, no. 1 (2015): 21, http://jurnal.fs.iainkerinci.ac.id/index.php/alqisthu/article/viewFile/9/2

Al-Ghazali, Abdul Hamid. Ihyaul Ulumuddin. Ciputat: Lentera Hati, 2003.

Al-Jauziyah, Ibnu Qayim. Al-Thuruq al-Khukmiyyah fi al-Siyasah al-Syar’iyyah. translated by Qahar, Adnan. Hukum Acara Peradilan Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2006.

Al-Kasani, ‘Ala’ Ad-Din. Badai’ Ash-Shanai’ fi Fi Tartib Asy-Syara’i. Vol. VII. Beirut: Daar AlFikr, 1996.

Al-Qaradawi, Yusuf. Dirasah Fi Fiqh Maqa>s{id al-Sharia. ed. III, Kairo: Darus Syuruq, 2007.

Arto, Mukti. Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama. ed. III. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.

Asy-Syafi’i, Jalaluddin Muhammad Bin Ahmad Al-Muhalli. Sarh Al-Waraqat Fi Us{u>l Al-Fiqh. Beirut; Darul Kudsi, 1999.

Auda, Jasser. Maqa>s{id al-Shari>’ ah as Philosophy of Islamic Law A Systems Approach. Washington: The International Institute of Islamic Thought London, 2007.

Auda, Jasser. Membumikan Hukum Islam Melalui Maqashid Syari’ah. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2015.

Az-Zuhaili, Wahbah. Fiqh Islam wa adillatuhu. Vol. VI. Damaskus: Daar Fikr, 1989.

Bakri, Asafri Jaya. Konsep Maqasid Syariah Menurut As-Syatibi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996.

Barkatullah, Abdul Halim. Pidana Hukum Islam. Bandung: Citra Aditya, 2003.

Doi, Abdur Rahman I. Tindak Pidana dalam Syari’at Islam. Jakarta : PT Rineka Cipta, 1992.

Fuadi, Munir. Teori Pembuktian Pidana dan Perdata. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2006.

Hamzah, Andi. Asas-Asas Hukum Pidana. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

Hamzah, Andi. Hukum Acara Pidana Indonesia. ed. II. Jakarta: Sinar Grafika offset, 2008.

Hamzah. “Kategori Tindak Pidana Hudud dalam Hukum Pidana Islam.” Jurnal Al-Daulah 4, no. 1 (Juni 2015): 68, http://103.55.216.56/index.php/al_daulah/article/download/1502/1442

Harahap, M. Yahya. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Penyidikan dan Penuntutan. Jakarta: Sinar Grafika, 2002.

Harefa, Safaruddin. “Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana di Indonesia Melalui Hukum Pidana Positif dan Hukum Pidana Islam.” Jurnal UBELAJ 4, no. 1 (April 2019): 55

Haryono, Anwar. Hukum Islam Keluasan dan Keadilan. Jakarta: Bulan Bintang, 1965.

Hasan, Hamzah. Kejahatan Kesusilaan Perspeektif Hukum Pidana Islam. Makasar: Alauddin University Press, 2012.

Hiariej, Eddy. Teori dan Hukum Pembuktian. Jakarta: Erlangga, 2012.

https://putusan3.mahkamahagung.go.id/search.html?q=penghinaan diakses 1 Mei 2021.

Hulam, Taufiqul. Reaktualisasi Alat Bukti Tes DNA Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif. Yogyakarta: UII Press, 2002.

Ibn Rusyd, Muhammad. Bidayatul Mujtahid. Vol. II. Damaskus: Daar Fikr, t.t.

Ilyas, Ismardi. “Stratafikasi Maqashid Al-Syari’ah Terhadap Kemaslahatan dan Penerapannya.” Jurnal Hukum Islam 15, no. 1 (Juni 2014): 17, http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/hukumislam/article/viewFile/985/919

Jalaluddin, Imam. Tafsir Jalalain. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010.

Jauhar, Ahmad Al-Mursi Husain. Maqasid Syariah. ed. II. Jakarta: AMZAH, 2010.

Khairunnisak, dkk. “Penerapan Konsep Jera Hukuman Ta’zir dalam Presfektif Maqashid Syariah (Studi Kasus Penegakan Hukum Pada Masa Syeikh Abdul Wahab Rokan Di Babussalam).” Jurnal AT-TAFAHUM: Journal of Islamic Law 2, no.1 (Januari-Juni 2018): 5

Khallaf, Abdul Wahhab. ‘Ilm Ushul al- Fiqh. Kuait: Dar al-Qalam, 1978.

Kusumo, Sudikno Merto. Hukum Acara Perdata Indonesia. Liberty: PT Ilmu Persada, 1999.

Mardiyah, Ainun. “Qadzaf dalam Bentuk Kinayah (Studi Analisis Hukum Pidana Islam)”. Essay, UIN Sumantera Utara Medan, 2019.

Mawardi, Ahmad Imam. Fiqh Minoritas Fiqh Al-Aqlliya>t dan Evolusi Maqa>shid asy-Syari>’ah dari Konsep ke Pendekatan. ed. I, Yogyakarta: Lkis, 2012.

Muljono, Wahju. Teori dan Praktik Peradilan Perdata di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 1995.

Panggabean. Hukum Pembuktian. Bandung: PT Alumni, 2012.

Prasetyo, Muhammad Agus. “Studi Komparatif Tentang Pembuktian Tindak Pidana Menuduh Zina (Qadzaf) Menurut Hukum Islam dan Hukum Positif”. Essay, UIN Walisongo Semarang, 2017.

Rasjid, Sulaiman. Fiqh Islam. Bandung : Sinar Baru Algesindo Bandung, 2010.

Sabiq, Sayyid. Fiqh Sunnah. translated by Husein, Muhammad Nabhan. Bandung : PT Al-Ma’arif, 1990.

Sodiqin, Ali. Fiqh Ushul Fiqh. Yogyakarta: BERANDA, 2012.

Tim Penerbit Citra Umbara. KUHP dan KUHAP. ed. X. Bandung: Citra Umbara, 2013.

Wahyudi, Yudian. Maqasid Syari’ah dalam Pergumulan Politik. ed. IV, Yogyakarta: Pesant ren Nawesea Press, 2014.

Zahrah, Muhammad Abu. Ushul al- Fiqh. Damaskus: Dar Fikr al-‘Araby, t.t.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.